Di sekolah, ada acara kunjungan ke sekolah lain di kota Buntok. Namanya anak sekolahan klo ngedenger ada acara, apalagi klo di desa terpencil kayak kami, pastinya heboh banget. Berbagai rencana telah dipersiapkan untuk mengisi kegiatan pasca-kunjungan. Begitu juga aku bersama teman-temanku udah berencana ikutan kunjungan (lumayan ga belajar, yohohoho).
Rencananya kami bakal naik motor bareng, kayak konvoi gitu. Padahal udah dilarang oleh Kepala Sekolah kami nan Gagah (Baek-baekin deh, yohohoho), karena sekolah udah nyiapin kendaraan tersendiri untuk siswa yang ingin ikut. Tetapi walaupun begitu, kami tetap bersikeras membawa motor sendiri (maklum,namanya juga masa-masa puber. Suka memberontak!). Akhirnya Bapak Kepsek mengijinkan juga akhirnya, sambil mewanti-wanti supaya ga ngebut-ngebut di jalan (ga mungkin layao!).
Aku dan teman-temanku akhirnya rapat tentang menyusun posisi yang pas dalam bonceng-membonceng. Setelah dipikir, didiskusikan, disepakati, dan dimateraikan (wuih, resmi banget), akhirnya ditentukanlah posisi bonceng-membonceng ini. Demard dengan Sherly, lalu Nita dengan Akbar, Wilson dengan Ikwan, dan aku dengan pacarku, Tia (Yaiyalah! Kesempatan ga bakal datang dua kali, yohohohoho). Sebenarnya sih yang pake motor bukan cuman kami doank, masih banyak yang lainnya. Aku ga memperhatikan posisi yang lain.
Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu. Tapi sayang, sepertinya cuaca agak kurang mendukung. Awan mendung menutupi matahari yang terang, sehingga turunlah hujan rintik-rintik. Tetapi walaupun begitu, kami tetap melanjutkan rencana kami untuk pergi ke Buntok (dasar kepala batu!). Walhasil, hujan deras mengiringi sepanjang perjalanan sehingga ketika nyampe di kota tujuan, semuanya basah kuyup (rasain !).
Dengan weak fashion seperti itu, kami cuek aja dan tetap mengikuti acara dengan cool (gila!), seperti ga terjadi apa-apa (padahal, malu minta ampun deh !). Dasar orang-orang sableng (termasuk aku, yohohoho). Ternyata ada dua sekolah yang akan kami kunjungi. SMKN 1 Buntok dan SMAN 2 Buntok (Klo ga salah, maaf ya klo salah :P).
Yang namanya kunjungan, pasti ada adu kehebatan dibidang olahraga antar sekolah. Ada pertandingan Basket, Voly, Takraw, dll. Termasuk ada adu mulut antar suporter dari ketiga belah pihak :P. Wah, pokoknya rame banget deh. Ga kalah seru ama sinetron-sinetron di tivi, malah ada adegan bunuh-bunuhan segala :@. Eh, ga deh, cuman bercanda doank koq.
Setelah pertandingan usai, rencananya kami akan pulang bareng bersama teman-teman yang lain. Tiba-tiba muncul sebuah ide brilian bin sableng diantara kami (tumben punya ide, biasanya LOSS otak). Ide gila itu adalah menginap sehari di kota Buntok, di rumah tantenya Nita. Yang cowok dirumah keluarganya Wilson (Sayangnya ga boleh tidur sama-sama, yohohoho).
Namun, entah ada angin apa, tiba-tiba Ikwan merengek pengen pulang duluan. Katanya sih, dia punya firasat buruk gitu. Akhirnya setelah didiskusikan secara lahir dan batin, kami merelakan kepulangan Ikwan yang keluar dari jadwal setan tersebut.
Yah, namanya anak muda, klo ada acara rame-rame apalagi sampe menginap, pasti mempunyai banyak rencana setan dimalam harinya. Cuman dalam masalah kayak gini baru otaknya encer banget. Biasanya ditanya guru bahasa inggris, cuman bisa jawab YES and NO ! (pas-pasan amat bahasa inggrisnya!).
Nah, aku juga punya rencana jahat tersendiri. yaitu. . .jreng. . .jreng. . .jreng. . . (sumbang amat bunyi gitarnya) jalan-jalan berdua bersama sang kekasih menyusuri kota Buntok dimalam hari (waduh, bahaya amat tuh). Tapi tenang saja teman-teman, aku ga macam-macam koq. Paling cuman. . .(hehehe, tebak aja sendiri). Pokoknya, suasana malam itu terasa hangat sangat, indah banget (jangan sirik ya, dan jangan bayangin yang macam-macam!). Namun sangat disayangkan, kami pulang ke hotel teman masing-masing pada pukul 20.00. Semuanya terasa begitu singkat. Huhuhuhu. . .
Di hotel Wilson, kami mulai cerita-cerita masalah 17 tahun ke atas (untuk yang cewek, jangan coba-coba bergabung dengan kami pada malam hari). Walaupun cowok, tapi kami ga kalah ributnya ama arisan ibu-ibu deh. Sampe Oomnya Wilson beberapa kali mewanti-wanti supaya kami jangan ribut, karena anak bayinya sedang tidur nyenyak. Dasar anak-anak gila. Udah numpang tidur gratis, malah ribut-ribut. Mengganggu saja (namanya juga anak muda Oom, kayak ga pernah muda aja).
Keesokan harinya, akhirnya kami pulang juga meninggalkan kota Buntok. Kali ini posisinya sama, namun Wilson sendirian karena ditinggal pulang duluan oleh Ikwan (jangan nangis Son!). Tetapi sebelumnya, kami sempat berkunjung ke Danau Sanggu. Suer, danaunya Indaahhhh banget! Sampe terkahum-kahum aku ngeliatnya. Seandainya bisa tempat itu bisa ditukar ama daerah Empat Lima di Tamiang Layang, aku pasti ga bakal rela ninggalin desa kecil itu. Suasananya romantis banget. Akbar aja bisa menghasilkan sepuluh buah puisi di danau itu dalam sekali buat (yohohoho, maaf ya Bar).
Nah, disitu ada sepeda air. Kebetulan banget. Bentuknya lucu banget. Ada bentuk Bebek, Angsa, Itik (walaupun semuanya terlihat sama bagiku). Langsung aja kami mencarter Itik (atau Bebek, atau Angsa, terserah aja deh) tersebut dan berngebut ria. Belum sampai 10 menit udah lemes tenaga (lemah banget).
Akhirnya puas juga berhos-hosan ria. Setelah istirahat sebentar, kamipun melanjutkan perjalanan pulang menuju desa Tamiang Layang, my home sweet home. Sebuah kenangan indah telah tercipta bersama teman-teman sablengku. Trim's ya teman-teman!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar