Sabtu, 25 Juni 2011

Gak Nyontek Lagi

Hari kamis kemarin adalah hari terakhir Ujian Akhir Semester 2 di kampus. Capek? CAPEK BANGET!!

Well, ujiian kali ini aku bersih. Bukan, bukan karena aku sudah mandi dan jadi ganteng (jadi pas mandi jeleknya luntur?). Tapi karena ujian ini adalah hasil usahaku sendiri, tanpa ada mencontek orang lain atau kertas contekan. Oke, mungkin banyak yang gak percaya. But seriously, aku sudah tidak mencontek lagi sejak Ujian Akhir Semester 1! Hebat kan? Hah, Biasa aja? Ya sudahlah.

Entah angin surga mana yang bertiup di kepalaku, tiba-tiba aja aku jadi berhenti mencontek. Aku sendiripun heran. Gak ada alasan buat manusia yang otaknya cekak kayak aku untuk berhenti mencontek. Yang ada juga nilaiku bakalan turun drastis.

Aku sudah jenuh mencontek. Udah bosan. Gak ada tantangannya.  Semua orang bisa mencontek. Lagipula bila hasilnya gak memuaskan, kita pasti bakalan memaki orang yang kita contekin. Kan dosanya double tuh, udah nyontek memaki pula! (Sok suci)

Coba klo gak mencontek. Wuihhh... Rasanya itu lho, memacu adrenalin! (kayak yang ngerti adrenalin aja) Ini yang aku cari-cari. Keadaan penuh tantangan dan perasaan gugup yang dimix menjadi satu inilah yang aku rindukan. Seperti orang yang memanjat tebing. Kita gak bakalan mau kan memanjat tebing sambil digendong orang lain? Gak ada gunanya! Mending memanjat dengan kaki dan tangan kita. Dengan keringat, tenaga, dan usaha kita sendiri. Dan akhirnya nanti bila sudah sampai puncak, kita bakal merasakan kepuasan yang lebih.

Awal-awal aku melakukan gerakan non-mencontek ini memang agak kesulitan karena godaan mas etan sangat banyak. Apalagi bila malam sebelumnya gak ada belajar, wah bisa jadi pertempuran besar tuh! Imanku benar-benar diaduk oleh mas etan kurang ajar. Rasanya jadi serba salah. Pengen mencontek salah, gak pengen mencontek juga nilai pasti hancur. Huh, cuek sajalah! Tetap pada pendirianku. Sir Thomas Alfa Edison aja bisa menemukan lampu harus melewati beribu-ribu kegagalan (tahunya cuman lampu doank, padahal banyak penemuannya yang lain. Tanda otak cekak!), masa aku yang baru sekali gagal langsung menyerah. Banci lu! Bencong! Homo! Muka Ingus! (bagi para banci yang tersinggung, silahkan protes ke Komisi Perlindungan Banci).

Sebenarnya gak bisa dibilang gagal juga sih. Hasilnya menurutku sangat memuaskan. Walaupun banyak huruf "C" nya, tapi Ujian Akhir Semester 1 aku gak ada ngulang! Yai! Ternyata aku bisa! Bayangkan betapa senangnya hatiku turun panas demamku, eh, itu iklan ding! Kepuasannya kan jadi berlipat ganda. Gak dosa karena gak mencontek, usaha sendiri pula. Asyiknya!

Selain gak mencontek, aku juga gak mau nyontekin ke orang lain. Bukannya pelit. Tapi kan usahaku untuk gak mencontek jadi sia-sia klo aku nyontekin ke orang lain. Sama aja bohong! Aku jadi mirip si etan tuh, suka nyebarin dosa kemana-mana. Gak mau donk disamain dengan makhluk jelek bertanduk dua. Jijay banget!

Bukannya aku sok suci atau udah ngerasa gak berdosa lagi. Aku sering melakukan kesalahan. Tapi paling gak jangan sampai aku membawa orang lain juga ke dalam jurangku. Orang lain sudah cukup susah memanjat jurang mereka sendiri, janganlah aku menambah beban mereka dengan menjatuhkan mereka ke jurang yang lain. Kan jahat banget tuh. Etan aja punya toleransi dengan sesama etan, masa kita gak. Kita lebih baik dari mereka. KITA ADALAH PEMENANG!

Sorry, paragraf terakhir terlalu serius.

Jumat, 24 Juni 2011

Cat Kamar Kost

Huft, akhirnya selesai juga ngecat kamar kostku yang baru. Lumayan keren. Inilah mimpi yang sudah lama aku ingin wujudkan : kamar berwarna biru. Yes, aku berhasil!!

Aku dibantu sama temanku yang baik banget, Rexi.
Dan sekali lagi, dia baik banget. Klo aja dia belum punya pacar, udah ku tembak dari dulu (banci lu!). Bayangin aja, dia mengerjakan hampir semua bagian yang sulit-sulit. Sementara aku lagi ngupil, dia sudah nyiapin cat dan mengaduknya. Aku lagi garuk-garuk pantat, dia sudah mengecat setengah dinding. Keren banget kan?

Jangan tanya aku ngerjain apa.

Sempat bingung juga tadi pengen milih cat merk apa. Aku belum pernah dikasih wejangan maha bijak untuk memilih jenis-jenis cat. Aku pengen menelepon bokap, soalnya pengalaman beliau sudah malang melintang dalam urusan bangunan. Tapi nomornya lagi gak aktif. Jadi bingung. Dan akhirnya setelah termakan bujuk rayu sang penjual cat, aku memilih cat Belazo. Entah kenapa waktu ngedengar nama cat tersebut, aku jadi teringat merk parfum. Ah, mungkin cuman perasaan aja.

Aku beli lengkap dengan peralatannya. Sudah kayak kuli beneran nih. Untung aja tadi gak jadi beli topi dan baju warna kuning.

Walau uang dan tenaga banyak terkuras (sebenarnya tenaga Rexi yang banyak terkuras), namun hasilnya tak mengecewakan. Aku cukup puas. Ternyata emang benar yang orang-orang katakan, segala sesuatu yang kita kerjakan sendiri akan menghasilkan kepuasan lebih.

Seperti misalnya antara membeli makanan diluar dan memasak sendiri. Pastinya lebih enak memasak sendiri. Rasanya juga terasa lebih lezat. Walaupun masakan kita cuman sekedar telur goreng. Tapi usaha kita itulah yang menghasilkan nilai plus.

Senin, 20 Juni 2011

Foto Dua Lelaki (Gak) Sejati

Ketawa mulu ngelihat foto di bawah.

Dengan kekuatan banci, berubah!!!
.
.
.
Jrrreeennnngggg!!
Gak kalah cantik sama cewek korea.
Foto diatas diedit oleh kakak tingkatku yang sudah alumni. Waktu itu lagi ikut acara Regenerasi Katharos di Tawangmangu, tepatnya di Bukit Hermon (katanya sih belum nyampe daerah Tawangmangu). Mungkin ada yang tahu Tawangmangu itu dimana, mungkin juga tidak (langsung dilempar pake bata).

Buat yang belum tahu, Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Terletak kurang lebih 37 Km arah timur kota Solo. Ada air terjunnya juga loh, tapi sayang aku belum punya kesempatan buat ke sana.

Ngelihat foto diatas, jadi kepikiran buat bikin jadwal mangkal diperempatan lampu merah. Lumayan kan sekali jalan bisa dapat lima ratus ribu. Ide ini didukung penuh oleh keadaan uang bulanan semakin minus.

Jumat, 10 Juni 2011

Indonesian Movie

Kemarin malam habis nonton film Hati Merdeka di bioskop sama kakak-kakak tingkatku. Di rombongan tersebut cuman aku sendiri yang masih semester dua. Berasa paling muda, banget. Tapi juga berasa paling kecil, sangat banget.

Dalam film itu diceritakan tentang sekelompok tentara pada zaman penjajahan Belanda dahulu. Mereka diperintahkan untuk membunuh seorang pemimpin tentara Belanda yang terkenal karena kekejamannya. Sang kapten pada awalnya menolak perintah tersebut, karena baginya membunuh seseorang adalah dosa besar. Namun akhirnya dia bergabung kembali karena rasa persahabatan dengan teman-temannya. Hhhmmm, I think this is a very good movie.

Di tengah-tengah cerita juga ada flashback untuk setiap tokoh. Seperti sang kapten yang dulu pernah membunuh seorang anak kecil, pemimpin tentara Belanda yang istrinya dibunuh oleh tentara Jepang, dan lain-lain. Walaupun otakku cekak soal perfilman, tapi aku bisa menebak klo cerita ini beralur maju mundur, kayak tunggangan anak-anak di Timezone atau Amazon.

Efek-efek yang dihadirkan juga gak kalah hebat dengan film-film Hollywood. Seperti ketika tentara Indonesia sedang berlayar digunung eh dilaut. Suasana sepi, sunyi, dan senyap. Hanya suara nyanyian seorang tentara wanita dan derau ombak deras yang terdengar.

Sedang asyik-asyiknya menikmati kesunyian tersebut, tiba-tiba...

DDUUUAAARRR!!!!!!!!

Meriam kapal mesin Belanda meletus dan hampir mengenai lambung kapal layar Indonesia. Aku kaget. Gile, hampir aja aku joget-joget gak jelas (namanya juga orang kaget, whos know?). Klo aku sampai mati karena jantungan, aku bakal menuntut pihak PH yang bikin film tersebut. 

Sesaat setelah selesai, otaku berkata, "Wow!!" Aku gak menyangka, film Indonesia sudah berkembang sejauh ini. Kemene eje gue seleme ene? Belakangan aku tahu, klo film itu adalah trilogy dari dua film sebelumnya. Aku lupa judulnya apa.

Beginilah seharusnya dunia perfilman Indonesia berkembang. Bukan dengan film-film bertema horror esek-esek atau comedy esek-esek yang perlahan-lahan meracuni pikiran bangsa kita. Seolah menyembunyikan porn movie didalam horror and comedy.

Sebagai contoh, film Tali Pocong Perawan. Bagaimana seandainya ada anak kecil yang melihat iklan film tersebut lalu bertanya pada orangtuanya, "Ma, pocong perawan tuh apa sih?" Orangtuanya pasti bakalan bingung menjawab pertanyaan si anak. Secara, gak mungkin Mamanya menjawab, "Itu artinya orang yang gak pernah bersenggama mati penasaran dan menjadi pocong." Bisa-bisa si Mama di marahin kak Seto.

Hati Merdeka, I love this move. . .