Selasa, 01 Februari 2011

Menjaga Gambar

Karena ada sesuatu dan lain hal, akhir-akhir ini aku jarang nulis blog lagi. Maklumlah, jadwal calon presiden ini sangat padat memang (Presiden gundulmu!!). Beberapa hari ini aku disibukkan oleh kampanye, eh, Ujian Akhir Semester maksudnya (maklum, masih mengkhayal jadi presiden :p). Yup, UAS yang selalu bikin mahasiswa ga jelas kayak aku jadi sibuk sendiri kesana kemari buat pinjam catatan dari teman.

Iya, aku tahu, pemalas banget memang. Tapi mau bagaimana lagi, udah terlahir dengan sifat kayakgini. Ayah dan Ibuku juga ga nyangka klo keluarnya jadi kayak aku. Udah cakep, manis, imut (buk! bak! buk! buk! digebuk orang sekampung).

Mahasiswa kayak aku memang perlu diberantas. Ga ada gunanya. Cuman nyesakin kampus doank, tanpa bisa menaruh prestasi yang bagus buat mengharumkan nama kampus (sekalian mengharumkan namaku juga, hehehehe). Apalagi gosipnya sekarang diperlukan sertifikat bernilai eskape supaya bisa wisuda ntar. Aku aja sampai ga tahu menahu tentang sertifikat eskape, dan baru kali ini dengar (parah banget ya).

Muka Mahasiswa Santai
Nah, sekarang aku ingin menjadi mahasiswa teladan yang berprestasi. Memulai membangun image yang baik, ramah, pintar, sopan, pokoknya sebakul sifat yang baik. Yang buruk dibuang aja kelaut, biar disambar hiu dan dicincang sampai habis supaya ga kembali lagi.

Susah memang, aku tahu. Sangat susah untuk membunuh rasa malas yang mendarah daging ditubuh yang lemah ini. Tetapi, apabila punya tekad dan tetap tekun untuk berubah, semuanya akan menghasilkan bantingan dahsyat yang merubah total hidupku. Pembunuh kesuksesanku akan kubunuh agar dapat meraih semua cita-cita.

Demi nusa dan bangsa.
Demi keluarga dan teman-teman.
Demi semua orang yang aku miliki.
Dan demi diriku sendiri.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Wah, tulisanku diatas lumayan serius juga. Ternyata pembunuh berdarah biru kayak aku bisa nulis se-romantis itu ya (romantis darimana bego!). Koq kayaknya ga nyambung sama judul? Apakah penulisnya bolot?

Tentu tidak bro-sis. Aku masih tetap cakep donk, walau sering cuci piring (apa hubungannya??). Walau tidak berhubungan, cobalah tengok ke arah barat. Lihatlah sinar matahari yang menghujani bumi, mengusir kegelapan. By the way, matahari terbit dari arah timur atau barat sih??(bego stadium akhir).

Judul diatas aku buat karena teringat kata-kata teman disekolahan dulu.

Tony   : "Bro, tahun ini anak-anak baru pada killer bikin ngiler cakepnya!"
Rizky  : "Truz ??"
Tony  : "Yeee, dasar telmi. Itu artinya kita harus jaim!"
Rizky  : "Jaim? Apaan tuh?" (aku pikir jaim itu sejenis alat untuk menunjukkan waktu)
Tony  : "Ga gaul amat sih kamu. Jaim itu jaga image, kamsudnya jaga tingkah biar kelihatan keren ama anak-anak baru!"
Darah sang pembunuh cinta mengalir deras dinadiku.

(Perhatian!! Perbincangan diatas sebenarnya memakai bahasa daerah. Tapi aku ubah supaya bisa lebih dipahami anak-anak gaul masa kini).

Muka temanku itu sangat mirip dengan gambar ini.
Image menurutku sangat identik dengan gambar. Makanya aku menerjemahkan secara mengerikan menjadi jaga gambar (bilang aja ga ngerti inglis).

Berkaitan dengan jaim, aku punya sebuah pengalaman yang sangat membunuh imageku. Udah lama banget sih, pas waktu aku masih pake seragam merah putih (lagi imut-imutnya). Suatu ketika aku diajak oleh ortu beserta keluarga pergi keluar kota. Kebetulan Dygo, temanku satu esde tapi beda kelas, juga ikutan. Dan berangkatlah kami dengan hati yang riang gembira semua.

Kira-kira beginilah wajahku sewaktu SD.

Sesampainya di kota tujuan, rencananya pengen makan dulu. Mengisi bahan bakar yang telah kosong (emang mobil). Maklum, ini perut suka ribut sendiri klo ga dikasih jatah. Aku ngotot sama ortu pengen makan di pasar. Akhirnya ortuku ngalah dan kami mencari disekitar pasar. Dygo ngikut aja kayak ekor kuda dibelakang.

Akhirnya ketemu juga tempat yang pas untuk makan. Terlihat orang-orang rame berbicara sendiri. Kami mendapat tempat duduk ditengah ruangan (ceritanya didalam toko gitu). Ortu dan keluargaku memesan makanan duluan. Setelah selesai, ibuku menanyakan aku ingin makan apa. Tanpa pandang bulu aku langsung berteriak "AKU MAU MAKAN B**I GULING!!" (maaf, aku non-muslim).

Ibuku kaget, ayahku kaget. Keluargaku kaget. Orang disekitarku juga kaget. Cuman Dygo yang ketawa. Ada apa gerangan??

Ternyata, orang-orang di kota itu semuanya muslim.

Dan imageku menciut sekecil atom.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar