Kamis, 21 April 2011

My Room Is Not Rabbit Corral

Akhirnya UTS kelar juga. Setelah beberapa hari bertempur dengan seluruh jiwa dan raga, hari ini aku bisa beristirahat dengan tenang. Anak-anak kampus terlihat keluar ruangan ujian satu per satu dengan muka senang, entah karena tadi mampu menyelesaikan soal atau karena kesenangan yang lain. Aku, tentu saja, senang karena akhirnya neraka ini berakhir juga. Seolah-olah aku sudah mendambakan saat-saat ini sejak aku masih ada dalam kandungan.

Nah sekarang, kegiatan apa yang mau aku lakukan? Like U know, setiap habis ujian pasti ada yang namanya liburan. Akhirnya ketika aku balik ke kos, aku mendapati sebuah kegiatan yang harus aku lakukan : Membersihkan kamar. Yup, kamarku hancur banget. Kandang kelinci sebelah kos aja kalah hancur.

Ini gara-gara ujian yang membuat aku stres dan sibuk sehingga gak punya waktu untuk membersihkan kamar (menyalahkan ujian). Masih dalam posisi terdiam di depan pintu, aku mikir, 'Gila, ada topan turun di kamarku'. Dan untuk kedua kalinya, kamarku hancur banget.

Sebagai cowok, kamar berantakan itu kayaknya udah biasa. Bahkan kata temanku, "Klo kamar kamu ga berantakan, berarti bukan kamar cowok." Kemudian aku mikir, berarti ga usah aja donk aku bersihin kamarku. Takut aja klo ntar kamarku bersih, dibilang bencong. Trus disunat rame-rame sama masyarakat.

Tapi akhirnya aku tetap harus membersihkan kamar. Bukannya karena aku bencong yang punya bibir mencong mirip kedondong, tapi lebih disebabkan oleh bau kamarku yang bikin aku ilfil sendiri. Bayangin aja, bau pakaian gak dicuci satu minggu, bau obat nyamuk Hit elektrik, bau parfum Casablanca serta bau kaos kaki, semua bercampur menjadi satu. Mungkin kecoa aja gak betah nyium baunya.

Untuk ketiga kalinya : Kamarku hancur banget


Jadi klo nanti kalian menemukan aku tewas dengan hidung yang berwarna ungu, kalian tahu penyebabnya. Dan disarankan agar menggunakan masker pelindung serta pakaian anti radioaktif bila pengen masuk ke kamarku (gila, serasa berada dalam reaktor nuklir).

Huft, aku bakalan cape banget nih. . .

Rabu, 20 April 2011

Gagal Sombong

Akhir-akhir ini aku stres berat. Gara-gara banyak ujian, freetest, dan tugas. Bayangin aja, seminggu penuh ujian, diselingi dengan beberapa freetest dan laporan yang harus dikumpul pada hari yang bersamaan. Capeknya bukan main. Apalagi bila ada kegiatan kayak main badminton atau bahasa pornonya "bulu-tangkis".

Aku ga tahu kenapa dinamakan bulu-tangkis. Mungkin karena bolanya yang terbuat dari bulu pantat ayam itu (kadang aku geli juga megangnya) yang lalu dimainkan dengan cara "menangkis". Mungkin aja. Tapi nama lainnya badminton itu kayaknya ga ada hubungan apa-apa sama bulu pantat ayam dan menangkis. And just for your information, bolanya itu dinamakan dengan shuttlecock. Ini semakin menguatkan kemungkinan kebenaran teoriku, yang bila digabung akan menjadi "Bola Bulu Pantat Ayam Ditangkis Bolak-balik".

Apakah aku bisa main badminton ? (aku ngeri pake nama bulu-tangkis, takut kena tuntut lembaga sensor indonesia).

Jawabannya : bisa. Tapi sampai mana batas kebisaanku, cuman sampai dengkulnya ikan lele.

Awalnya aku pikir 'Halah, mainan anak kecil kayak gini. GAMPANG! Tinggal pukul kanan pukul kiri aja udah menang.' Tapi dari yang awalnya "pukul kanan pukul kiri" berubah menjadi "kejar bola ke kanan kejar bola ke kiri". Kampret.

Apalagi klo aku backhand dengan kekuatan banci-ga-makan-lima-bulan, bolanya pasti melayang tinggi di depan musuh. Dan hasilnya bisa ditebak, musuh ngeluarin jurus SMASH kencang yang klo kena kepalaku bisa bikin koma empat puluh hari. Ga adil banget kan? Untung aja aku ga joget-joget kayak boyband di TV.

Apalagi klo yang jadi lawanku yang sudah senior. Keadaannya kayak gajah ngelawan semut-cacat-buntung-empat-kaki. Yang terjadi adalah aku sering diakal-akalin sama musuh kampretku itu. Seperti ini :

Aku servis. Dia pukul kencang jauh ke kiri belakang. Aku lari dengan sekuat tenaga, kemudian memukul dengan kekuatan banci ke tengah. Dia pukul pelan ke kanan depan. Masuk. Poinku 5, poinnya 21. Game over. Aku nangis sambil loncat-loncat (namanya juga orang merajuk).

Ngeselin banget kan? Karena ga terima kalah, aku mulai sok-sokan nantangin pemain lainnya sebanyak tiga kali pertandingan. Hasilnya : kalah mengenaskan. Keinginanku untuk sombong gagal total.

Keesokan paginya, pas bangun tidur. Badanku sakit semua.

Sabtu, 16 April 2011

Guru Tendang Berdiri, Murid Takut Berlari

Sejak kecil aku paling suka pelajaran Matematika. Yup, walau mukaku kayak pantat setan, tapi aku memiliki kelebihan yang orang lain jarang punya. Mungkin ini juga penyebab aku lebih suka cara belajar yang pakai logika daripada hapalan. Klo belajar dengan cara menghapal, entah kenapa ingatanku kayaknya cekak baget. Tapi klo ngomongin soal logika, I won’t lose.

Sewaktu SD, dua ekor kakakku yang semuanya cewek (iya, ga ada yang banci) sering mengajari aku apabila ada PR Matematika. Maklum, mereka udah SMP dan SMA waktu itu. Alhasil, ilmu mereka sudah kusedot habis-habisan. Setelah selesai kusedot, aku jadi sombong. Kupikir kan udah kusedot habis tuh ilmu kakak-kakakku yang udah SMP dan SMA, ngapain belajar buat ulangan harian besok. Pelajaran SD mah, GAMPANG! Kecil kayak upil yang nyangkut disela-sela gigi (habis makan upil ya?).

Keesokan harinya, ulangan harianku dapat nol besar dengan mata dua dan satu mulut tersenyum menyiksa yang digambar oleh teman sablengku, Kris. Sedangkan Akbar ketawa terbahak-bahak. Dari peristiwa ini aku belajar, aku harus menggambar semua nilai nolku dengan dua mata dan satu mulut.

Pokoknya, aku selalu merasa unggul klo masalah hitung menghitung. Teman-teman juga sering belajar dariku apabila ada pe-er. Hanya saja cara belajar mereka sangat unik. Unik sekali. Cara belajar mereka yaitu dengan membiarkan aku menjawab soalnya, kemudian mereka menyalin semuanya kedalam buku mereka. Hasilnya sungguh mengagumkan, mereka selalu dapat nilai yang sama dengan aku. Efektif banget kan? Mungkin suatu saat aku akan meniru cara super kreatif ini dan menerapkannya ketika ulangan. Keren.


Mungkin sudah menjadi opini masyarakat klo yang namanya guru matematika itu pasti killer. Tapi aku ga setuju. Soalnya selama aku menuntut ilmu di SDN 3 Tamiang Layang, ga pernah tuh ketemu guru yang galak. Baik banget malah. Berkat merekalah pelajaran jadi lancar banget masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Kesal juga ngelihat guru kesayanganku dikata-katain begitu. Pengen banget rasanya teriak-teriak di tengah jalan, “GURU MATEMATIKA JUGA MANUSIA!!” Tapi aku simpan dalam hati aja niat baik tersebut. Takut dikira orang gila. Dan juga takut ditabrak mobil yang supirnya kebelet sangat karena udah nahan pipis selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya aku bisik-bisik aja pada semut dalam lemari, “Guru matematika juga manusia lho.”

Tapi pembelaanku itu hancur ketika menginjak kelas dua SMP. Pembelaan yang sudah kuperjuangkan bertahun-tahun dengan menyucurkan darah dan keringat serta jiwa dan raga, luluh lantak hanya dengan satu kali pertemuan. Yaitu pada saat pertemuan kedua mata pelajaran matematika. Soalnya pas pertemuan pertama aku ga bisa hadir berhubung ada keperluan bisnis dengan presiden (bohong lu!), jadi aku menambah hari libur sendiri selama satu minggu (halaahhh, bilang aja malas). Teman-temanku sudah wanti-wanti sebelumnya, tapi aku ga percaya. Soalnya aku bersikukuh dengan prinsip perjuanganku, GURU MATEMATIKA GA GALAK.

Hari ini pelajaran matematika. Aku dengan semangat empat-lima pergi ke sekolah tercinta dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan aku ketemu dua sahabat kecilku, Akbar dan Kris.

“Gila Ky, guru matematika kita killer banget!!” Akbar ngomong ke aku. Dia ini teman sekelasku.

“Iya, Kerjaannya marah-marah melulu. Masa ngelihat lalat terbang aja ga boleh. Siapa tahu kan tuh lalat spesies baru, trus aku terkenal karena menemukannya. Nama latinnya nanti akan kubuat Krislalatus gantengnikus.” Tambah Kris. Aku ama dia emang beda kelas, tapi gurunya sama.

Aku tertarik, “Ah, masa sih. Mana lalatnya?Aku pengen lihat.”

“Woy, kita bukan ngebahas tentang lalat. Memang sih lalatnya agak aneh gitu. Aku juga ntar pengen lihat. Tapi bukan itu yang harus kita bahas sekarang. Permasalahannya sekarang GURU MATEMATIKA KITA KILLER BANGET!” Akbar mencoba mengembalikan perhatian kami.

“Owh iya. Masa sih guru matematika galak?“ Aku mulai nyambung.

“Iya lho. Kemarin aja pas Bapaknya masuk, langsung kena semprot hujan lokal.”

“Heh, ga boleh ngejelek-jelekin orang lain, apalagi guru matematika.” Aku menoleh ke Kris, dia masih mencari nama yang tepat buat lalat spesies barunya. Kemudian aku ngomong lagi ke Akbar, “Aku sangat menjunjung tinggi posisi guru matematika. Guru matematika adalah idolaku, panutanku, pahlawanku, kekuatanku, bla…bla…bla…” aku masih terus ngoceh dengan berpuisi tentang seorang guru matematika. Akbar hanya bisa mengangguk-angguk mendengarkan seniman tak dianggap Sedangkan Kris masih terus mencari nama.


Sepuluh menit kedua berhadapan dengan guru matematika di kelas dua SMP. Badanku tegang. Posisi duduk tegak. Wajahku berkeringat, tapi tak berani ku usap. Jantungku berdetak keras. Ketakutan menjalar di seluruh syarafku. Masih terbayang sepuluh menit pertama tadi. Dimarahin habis-habisan oleh posisi dudukku yang ga tepat, posisi tangan yang tidak diatas meja, dan arah pandangan mataku yang berkeliaran kesana kemari. Dan disinilah aku sekarang, terdiam seperti robot yang memandang kaku ke papan tulis. HARUS KE PAPAN TULIS. Gerak dikit aja ga boleh. Ngelirik ke arah gurunya juga ga boleh (siapa juga yang sudi ngelihat dia).

Tersiksa diriku plus hancur kebanggaanku kepada guru matematika. Seperti anak kecil yang kecewa ketika tahu bahwa superheronya yang asli adalah banci. Kemudian dengan entengnya sang superhero ngomong, “Ike juga punya kelemahan kale.”

Akhirnya, selama satu semester penuh aku menjadi seratus persen kebalikan dari sang pembela guru matematika. Sekarang aku adalah sang pembenci guru matematika.


Pernah suatu hari karena gurunya telat masuk, anak-anak pada duduk di depan pintu. Sedangkan Akbar, karena dia ketua kelas dan hari itu dia piket, dia menyapu di depan pintu tersebut. Trus, tanpa sepengetahuan kami, ternyata bapak guru killer tersebut melihat ke kelas. Kemudian dengan wajah garang dia menelusuri koridor menuju kelas kami. Alhasil, anak-anak yang duduk di depan pintu kelabakan semua. Segera kami mengatur posisi duduk di tempat masing-masing untuk menyambut sang guru tersebut. Semua terdiam membisu menunggu masuknya sang pembunuh mental.

Pak guru masuk. Muka dipasang sekeras mungkin. Kemudian dia duduk memandangi kami satu persatu. Kami cuman bisa terdiam. Gugup. Keringat mengalir deras.

Dengan suara lantang, dia berkata, “Siapa yang tadi duduk di depan pintu?!”

Kami tetap diam. Pandangan lurus ke papan tulis. Ga berani ngelihat sumber suara.

Kemudian dia melanjutkan, “Sudah tahu jam masuk, kok masih pada keliaran diluar? Kalian pikir saya ga ngelihat apa tingkah laku kalian? Kayak ga pernah diajarin sopan santun aja! Ayo ngaku, siapa yang tadi duduk di depan pintu? Maju ke depan! Klo tidak, SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENGAJAR DI KELAS INI LAGI!!!!”

YES!! Aku sempat bahagia sebentar, tapi siapa yang akan mengajar kami nantinya?

Kami tetap diam. Akhirnya dengan takut-takut, beberapa temanku maju ke depan, termasuk si Akbar. Dengan muka yang dipasang semarah mungkin, dia memandang satu per satu teman-temanku tersebut. Seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.

Tanpa Ba-bi-bu lagi, semua temanku itu dia tendang dibagian belakangnya. Satu per satu. Tanpa rasa kasihan, tanpa memikirkan bahwa kami hanyalah sekumpulan remaja yang sedang mencari jati diri, yang masih lemah baik secara fisik dan mental. Bisa aja kan setelah si guru menendang Akbar, mungkin Akbar akan terganggu kejiwaannya. Memang mungkin secara fisik Akbar bisa menahan rasa sakit kena tendang, tapi siapa yang tahu isi hatinya? Tapi untungnya hal itu tidak terjadi. Untung Akbar kuat secara fisik maupun secara mental.

Setelah dia menendang semua temanku yang malang itu, sepatunya terlepas dan melayang ke atas. Mungkin karena tendangannya yang terlalu bernapsu. Kemudian dia suruh mereka semua keluar. Tetapi temanku yag terakhir keluar kelas masih sempat merasakan “sepatu melayang” yang dilempar oleh sang guru. Kami semua cuman bisa terdiam melihat luapan kemarahannya. Tak ada yang berani ngomong. Tak ada yang berani protes. Memang rasa kesetiakawanan kami seperti mengalir deras dan ingin menuntut balas atas perbuatan yang semena-mena tersebut. Tapi apa daya yang bisa kami lakukan? Kami hanya sekumpulan anak ingusan yang berhadapan dengan amukan seekor banteng .


Bukan cuman sekali itu saja. Beberapa pertemuan selanjutnya, dia selalu mengajar dengan marah-marah. Bahkan pernah temanku kena marah cuman karena dia melihat pak guru. Akupun pernah kena amukannya.
Ceritanya gini. Waktu itu aku emang lagi kumat nakalnya. Maklum, sebagai anak yang superactive, aku memang ga bisa diam. Bawaannya pengen gerak mulu. Kemudian ketika sedang mengerjakan soal yang dia kasih, aku sedang bermain-main dengan penggaris Akbar. Ya, aku dan Akbar memang satu bangku. Karena sudah selesai dengan soal yang dikerjakan, aku cari-cari kerjaan gitu. Pas lagi asyik main-mainin penggaris, tiba-tiba secara tidak disengaja penggaris itu patah. Alhasil bunyinya nyaring banget.

Mendengar itu sang guru menatap aku, “Bunyi apa itu?”

Aku gugup. Ku jawab sekenanya, “Penggaris patah.”

Dia berjalan ke tempat dudukku. Dengan sangar dia berkata, “Kamu ngapain sih sebenarnya? Sekolah atau matahin penggaris? Sekolah itu yang benar!! Mana jawabanmu?!”.

Dengan mantap aku berikan jawabanku. Aku yakin banget klo jawabanku itu benar. Berharap dia akan bangga padaku, atau malah merasa bersalah. Tapi yang terjadi sebaliknya, DIA MALAH SEMAKIN MARAH!

Dia teriak di telingaku, “Ini jawaban apa? INI SALAH TAHU!” Sesaat kemudian kesepuluh jarinya yang besar sudah berada di leherku. Ya, aku dicekik. Aku digoncang-goncang, dan setelah itu dia teriak di telingaku lagi, “KAMU KELUAAARRR!!!”

Aku langsung lari keluar.


Dia tidak mengajar lagi. Dia sudah pindah tempat kerja.

Sekarang aku berpikir, apakah tipe guru seperti itu efektif dalam hal mengajar murid? aku yakin tidak. Karena aku pernah mengalaminya. Yang terjadi malah semua ilmu yang dia coba tranfer ke kami tertutupi oleh rasa takut yang berlebihan.

Tipe guru yang tepat zaman sekarang adalah guru yang bisa bersahabat bagi murid-muridnya, namun tetap tegas dalam disiplin.


Guru yang ideal. . .

Rabu, 06 April 2011

Masa-masa Offline Mode

Pernahkah kau merasa suram? 
Pernahkah kau merasa seperti kehilangan separuh jiwamu??
Bayangkan saat ketika tidak ada semangat dalam hidupmu, BAYANGKAN!!!
Kira-kira seperti itulah keadaanku saat ini. Kenapa?? Apakah karena diputusin pacar? Nilai jelek? Atau karena punya muka kayak ingus penguin?
Tidak. Klo cuman masalah kayak gitu sih aku masih bisa menghadapinya, kecuali yang muka kayak “ingus penguin” itu (klo benar mukaku kayak gitu,aku  langsung bundir gaya bebas). Tapi masalah yang sedang kuhadapi adalah masalah yang sangat luar biasa, mungkin adalah masalah terbesar dalam hidup manusia. Kehebohan kiamat 2012 pun bakalan kalah jauh. Ini menyangkut kepunahan manusia. Yaitu. . .MODEMKU RUSAK!!
F**K S**T!!!
Bayangkan, aku udah isi pulsanya, terus beli paket satu bulan. Eh, belum juga seminggu aku make, ternyata udah rusak. Langsung aja aku bawa ke bengkel modem. Pas nyampe di bengkel, ada mbak-mbak menyambutku dengan ramah banget. Jadi berasa kayak orang penting gitu.
“Selamat datang, ada masalah ya Mas?” Tanya si Mbak.
Si Mbak ini kok sok tahu banget ya. Padahal kan bisa aja aku datang kesitu mau pesan mie goreng, atau sekedar menengok saja. Atau jangan-jangan dia ini paranormal, makanya bisa tahu isi hati orang. “Iya nih Mbak, modemku rusak.”
“Rusak dimananya Mas?”
Pengen aku teriakin si Mbaknya ‘MANA AKU TAHU MBAK!!KLO TAHU JUGA AKU GA BAKALAN DATANG KESINI!!’ (maklum lagi emosi banget) tapi aku urungkan niat baik tersebut. Bukan takut diusir, tapi takut si Mbaknya malah ketawa ngelihat ada ingus penguin teriak. “Ga tahu nih Mbak, ga bisa terdeteksi di komputer.”
“Mana modemnya? Saya coba lihat dulu.”
Aku mengeluarkan modem dari tas bututku. Modem tersebut sudah aku buat dalam kotaknya seperti semula. Si Mbak sok tahu ini berkata lagi, “Masih ada garansinya ga?”
“Ada kok Mbak, tuh didalam kotak kartu garansinya.” Jawabku mantab.
“Mas kapan belinya?”
“Tanggal tujuh Januari kemarin Mbak!” Jawabanku semakin mantab.
“Dimana belinya?”
“Di toko sebelah kok Mbak!!” Aku mencari benda yang bisa dipukul ke kepala si Mbak supaya dia ga nanya-nanya lagi, tapi ga dapet.
“Owh, ya sudah. Modemnya tinggalin disini aja ya. Ntar klo udah selesai, kami akan beritahu via telepon. “
“OK deh Mbak!” Kataku lega. Akhirnya berakhir juga penginterogasian modem ini. Kasian modemku ditanya-tanya melulu, padahal kan dia ga tahu apa-apa. Setelah menuliskan nomor HP di Nota, aku langsung meninggalkan modemku tersayang di bengkel itu. Sempat khawatir juga sih, takut ntar modemku diapa-apain ama si Mbak tadi. Siapa yang tahu klo ternyata si Mbak itu “MODEMVORA”, sejenis makhluk yang suka makan modem hidup-hidup. Trus ntar modemku teriak-teriak manggil aku, ‘Tidakkk…Pemilikku, Tolong aku…AKU MAU DIMAKAN!’
Tiga hari berlalu. Masih belum ada telepon dari si Mbak modemvora. Hari-hariku bagaikan di neraka primitif, tanpa kehadiran modemku tersayang. Ga bisa facebook-an, Twitter-an (walaupun aku ga ngerti, yang penting punya twitter), dan yang paling menyakitkan ga bisa download-an.
Ya, aku adalah penganut ajaran ‘Download Terus Walaupun Quota Habis’. Mungkin akibat keserakahanku ini, Tuhan menghukum aku dengan mengkarantina diriku dari peradaban. Mungkin. Atau mungkin juga sebenarnya modemku ngambek disuruh kerja keras terus buat nyedot data-data dari dunia maya. Soalnya biasanya aku klo download tuh yang filenya gede-gede, bahkan sampai bergiga-giga.
Teknik yang kugunakan dalam mendownload juga sangat tidak berperikemodeman. Pokoknya setiap malam sebelum tidur, aku download sebuah file yang berukuran hampir satu giga. Terus aku tinggalin tidur aja, dan kuserahkan semuanya kepada modemku. Biasanya pas keesokan paginya file­-nya sudah terhidang sempurna, tinggal disantap.
Memang sih, aku bisa aja hotspot-an di kampus, kayak sekarang. Tapi akhir-akhir ini koneksinya lagi lelet banget. Jauh lebih lelet daripada modemku yang kehabisan quota. Mendownload pun lama banget. Bayangin, file tiga megabyte saja harus nunggu selama tiga puluh menit. Ga efektif banget kan?
Karena ga tahan lagi, akhirnya aku samperin lagi bengkel modem tersebut. Si Mbak modemvora menyambutku lagi. Kayaknya dia menunjukkan reaksi sedikit keheranan pas ngelihat aku. Mungkin dia bingung sama mukaku yang berubah drastis dari muka ingus penguin menjadi muka ingus penguin yang menderita selama tiga hari tanpa modem.
“Mau ngambil modem yang kemarin ya Mas?” Tanya si Mbak modemvora sok tahu lagi. Padahal kan bisa aja aku kesini cuman rekreasi doank, mendatangi tempat yang sudah membuat aku menderita selama tiga hari.
“Iya nih Mbak. Udah selesai atau belum?” Tanyaku balik.
“Aduh, maaf ya Mas. Modemnya kayaknya belum selesai deh.” Jawabnya dengan nada manja. Aku khawatir klo aja si Mbak nih sebenarnya penggemar gelapku. “Kan kemarin udah saya antar ke griya resminya , tapi belum ada kabar nih sampai sekarang. Mungkin dua atau tiga minggu lagi baru selesai. Pokoknya ntar saya hubungi Mas…bla…bla…bla…”
Aku sudah ga bisa mendengar kata-kata si Mbak modemvora sok tahu selanjutnya. Aku masih syok mendengar kata ‘dua atau tiga minggu lagi’. “Hahahahahaha, Mbak bercanda kan? Mbak ternyata lucu juga,” aku tertawa terpaksa.
“Saya ga bercanda Mas, saya serius.”
“Haha…Serius nih Mbak?”
“Iya Mas, saya serius!”
“Se…se…serius nih Mb…Mb…Mbak?” Tanyaku gemetar.
“IYA MAS, SAYA SERIUS!!”
Dunia serasa berputar cepat sekali. Mataku memandang ke cakrawala. Pikiranku kosong melompong. Hari-hariku bakal lebih gelap lagi.
Dan sampai sekarang, tidak ada telepon dari si Mbak.