Akhir-akhir ini aku stres berat. Gara-gara banyak ujian, freetest, dan tugas. Bayangin aja, seminggu penuh ujian, diselingi dengan beberapa freetest dan laporan yang harus dikumpul pada hari yang bersamaan. Capeknya bukan main. Apalagi bila ada kegiatan kayak main badminton atau bahasa pornonya "bulu-tangkis".
Aku ga tahu kenapa dinamakan bulu-tangkis. Mungkin karena bolanya yang terbuat dari bulu pantat ayam itu (kadang aku geli juga megangnya) yang lalu dimainkan dengan cara "menangkis". Mungkin aja. Tapi nama lainnya badminton itu kayaknya ga ada hubungan apa-apa sama bulu pantat ayam dan menangkis. And just for your information, bolanya itu dinamakan dengan shuttlecock. Ini semakin menguatkan kemungkinan kebenaran teoriku, yang bila digabung akan menjadi "Bola Bulu Pantat Ayam Ditangkis Bolak-balik".
Apakah aku bisa main badminton ? (aku ngeri pake nama bulu-tangkis, takut kena tuntut lembaga sensor indonesia).
Jawabannya : bisa. Tapi sampai mana batas kebisaanku, cuman sampai dengkulnya ikan lele.
Awalnya aku pikir 'Halah, mainan anak kecil kayak gini. GAMPANG! Tinggal pukul kanan pukul kiri aja udah menang.' Tapi dari yang awalnya "pukul kanan pukul kiri" berubah menjadi "kejar bola ke kanan kejar bola ke kiri". Kampret.
Apalagi klo aku backhand dengan kekuatan banci-ga-makan-lima-bulan, bolanya pasti melayang tinggi di depan musuh. Dan hasilnya bisa ditebak, musuh ngeluarin jurus SMASH kencang yang klo kena kepalaku bisa bikin koma empat puluh hari. Ga adil banget kan? Untung aja aku ga joget-joget kayak boyband di TV.
Apalagi klo yang jadi lawanku yang sudah senior. Keadaannya kayak gajah ngelawan semut-cacat-buntung-empat-kaki. Yang terjadi adalah aku sering diakal-akalin sama musuh kampretku itu. Seperti ini :
Aku servis. Dia pukul kencang jauh ke kiri belakang. Aku lari dengan sekuat tenaga, kemudian memukul dengan kekuatan banci ke tengah. Dia pukul pelan ke kanan depan. Masuk. Poinku 5, poinnya 21. Game over. Aku nangis sambil loncat-loncat (namanya juga orang merajuk).
Ngeselin banget kan? Karena ga terima kalah, aku mulai sok-sokan nantangin pemain lainnya sebanyak tiga kali pertandingan. Hasilnya : kalah mengenaskan. Keinginanku untuk sombong gagal total.
Keesokan paginya, pas bangun tidur. Badanku sakit semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar