Sabtu, 30 April 2011

Mak, Aku Minta Kawin!!!

Wah, kayaknya akhir-akhir nih yang hangat dibicarakan adalah pernikahan antara si Pangeran William dan Kate Middleton. Pernikahan yang menurutku terlalu digempar-gemparkan atau dilebih-lebihkan. That just a married of a couple humans, not better.

Tapi asyik juga ya klo pernikahan sampai segitu mewahnya. Ribuan media meliput, kue pengantin yang gede, tamu yang bejibun, kostum yang istimewa banget, dll. Gila, asyik banget. Jadi sirik.

Aku jadi pengen cepat nikah. Pastinya sama orang yang tepat, bukan orang yang hanya "cinta sesaat". Aku ngebayangin gimana pernikahanku nanti. Wuih, pokoknya super mewah. Gaunnya super keren, kuenya super istimewa, dan tamunya juga super banyak. Pokoknya, super duper keren (semboyan anak buangan dan anak labil).

Tapi aku lihat kehidupan nyata, dimana pernikahan hanya dianggap sebagai suatu "ritual" untuk memenuhi syarat kehidupan seseorang, atau sebagai media pelonjak popularitas belaka. Tidak jarang pernikahan seperti ini akhirnya diselesaikan dengan perceraian. Hal ini karena pernikahan itu diawali tanpa adanya komitmen. Tanpa adanya niat serius dan niat yang salah.

Pernikahan menurut aku adalah sesuatu yang sangat sakral, yang harus dipikirkan seratus ribu kali untuk melakukannya. Pernikahan bukanlah acara yang berlangsung selama beberapa hari. Pernikahan adalah kehidupan yang dijalani bersama-sama oleh dua orang yang tadinya berbeda namun telah menjadi satu.

Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang diawali dengan komitmen yang tepat antara si calon suami dan calon istri. Sebelum menikah, calon suami harus menerima semua keadaan yang terjadi pada istrinya dan calon istri pun demikian.

Aku bingung bagaimana kehidupan orang dewasa pada zaman sekarang. Seolah-olah mereka belum "dewasa". Mereka seperti anak-anak yang cepat bosan dan kurang bertanggung jawab. Mereka tidak menganggap suci pernikahan itu. Mereka hanya menganggap seperti sebuah permainan. Aku sakit hati banget ngelihat masalah yang hardcore seperti ini.

Aku juga takut, bagaimana klo nanti aku menikah? Akankah nasibku juga sama dengan manusia yang lain, yang berakhir dengan pernikahan? Memang setiap pernikahan tidak bisa dielakkan dari permasalahan dalam keluarga. Tapi bisakah aku dengan pasanganku nanti menghadapi setiap masalah yang akan menimpa bersama-sama?

Tapi aku percaya, kami pasti akan bisa menghadapinya.

Kamis, 28 April 2011

Amplop Nasib

Adek-adekku yang kelas 3 SMA udah kelar ujian. Wow, jadi rindu masa-masa itu. Masa-masa dimana para siswa satu per satu keluar dari ruang ujian dengan wajah yang seolah-olah sedang berada diantara pintu neraka dan pintu sorga. Kayak aku dulu. Ini ingatanku.

Hari selesainya ujian.

Aku emang lega karena akhirnya ujian ini selesai juga. Tapi rasa gugup di jantungku belum hilang sepenuhnya karena masih menunggu hasil ujian. Hasil yang menentukan apakah kita akan maju selangkah lagi untuk mencapai cita-cita atau malah menjadi juara bertahan.

Suasana menjelang pengumuman aku dan teman-temanku yang otaknya udah agak bocor, mencoba membuat kata-kata LULUS dengan diri kami seperti yang sering di lakukan oleh cheers. Cool. Tapi sayangnya kami hanya terlihat seperti siswa-siswa yang gagal menjalani masa pubertas.

L-U-L-U-S!!


Hari eksekusi.

Akhirnya, hari yang dinanti telah tiba. Kami semua berbaris dengan tidak rapi di depan ruang guru. Hari ini tidak ada siswa yang mencoba untuk membolos. Semuanya hadir. Namun tiba-tiba hari mendung, dan hujan turun ke bumi. Di awali dengan rintik-rintik yang sedikit demi sedikit bertambah deras. Semua siswa yang tadinya berbaris tidak rapi di depan ruang guru sekarang telah berdesak-desakan di koridor ruang guru. Jadilah ruangan itu penuh dengan bau keringat para siswa. Sumpek banget.

Aku pun sebenarnya tidak tahan dengan keadaan itu. Tapi di luar hujan, dan hasil ujian belum di umumkan. Pasrah aja deh.

Satu per satu nama siswa di panggil oleh guru dan di berikan amplop putih. Amplop nasib, yang menentukan langkah kita. Beberapa siswa yang telah membukanya berteriak kesenangan. Ada yang meloncat-loncat, ada juga yang berteriak kencang-kencang. Sedangkan beberapa siswa hanya diam saja, dengan muka yang biasa-biasa saja. Entah itu karena dia sudah memprediksi bahwa dia pasti lulus, atau karena dia menjadi juara bertahan.

Seperti ketika namaku di panggil oleh guru. Jantungku langsung berdetak sangat kencang. Seluruh badanku merinding. Wow! Pikirku. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Ketika guru itu memberikan amplop itu kepadaku, aku menerimanya dengan tangan yang gemetar. Aku gak berani membukanya.

Ya, aku takut. Sempat terpikir olehku untuk membawa pulang amplop itu dan membakarnya, sehingga aku tidak akan pernah mengetahui isinya. Mungkin dengan tidak mengetahui isinya, aku akan terlepas dari keadaan yang tidak aku inginkan.

Tapi. . .

Tapi kemudian aku berpikir, aku bukanlah pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Teman-temanku saja langsung membuka amplop nasib, kenapa aku tidak? Bagaimana aku bisa melangkah maju ke depan bila hanya membukanya saja aku tidak berani?

Aku mencoba kumpulkan keberanianku. Sedikit demi sedikit, kubuka amplop salan itu. Seperti slow motion, semuanya terasa begitu lama. Melambat. Semakin melambat. Seolah-olah kecepatan cahaya sebanding dengan kecepatan kura-kura. Sangat lambat.

Sampai akhirnya, nasibku selanjutnya hanya tinggal berada di balik lipatan kertas putih. Sedikit lagi. Ku buka. . .

L-U-L-U-S!!!

Aku berlari menembus hujan. Aku berteriak sekencang-kencangnya. YES!!! Aku terlihat seperti banci yang baru pertama kali mendapatkan langganan. No problem, sing penting aku wes LULUS!! Aku langsung menelpon dia, karena dia juga sedang menerima amplop nasib.

Tiba-tiba dia pun menerobos hujan dan berlari mendekati aku. Dia memeluk aku dan berteriak, "Aku LULUS!!" Aku yang sedang senang sekali, merasa seperti pucuk di cinta, ulam pun tiba. Atau sudah jatuh tertimpa tangga, tapi dalam artian positif.

Akhirnya, kerja kerasku tercapai.

Rabu, 27 April 2011

TA-mania

Hari ini aku ketemu dengan dosen baru. Cewek. Yah, lumayanlah (aku gak berani bilang jelek, takut nilai dikurangin). Dia berkacamata, gigi gak rata, bibir melebar ke samping, dan berjalan kayak supermodel. Mirip kayak aligator berkacamata yang gagal tes menjadi model.

Caranya mengajar jauh lebih enak dari dosenku yang dulu. Klo dosenku dulu mengajar dengan cara mempersentasi slide berbahasa inggris, tapi dengan kalimat penjelasan yang kadang tidak terselesaikan kayak orang gagal menterjemahkan bahasa inggris tersebut. Kayak orang bingung lah.

Sedangkan dosenku yang sekarang mengajarnya sama aja, dengan mempresentasi slide. Tapi slidenya berbahasa Indonesia, dan kalimat penjelasannya pun enak buat diterima oleh telingaku. Dia menjelaskan segala sesuatu sampai sedetil-detilnya. Walaupun terkadang telingaku berdarah-darah karena mendengar penjelasannya yang terlalu panjang.

Selain daripada itu, semuanya enak-enak aja.

Dia juga bilang klo selama dia mengajar, tidak jadi masalah seandainya ada yang gak pengen hadir dalam perkuliahannya. Yang penting absensinya tetap terisi, karena salah satu syarat mutlak mengikuti ujian adalah persentase kehadiran harus 75%. Klo di bawah 75%, otomatis gak boleh mengikuti ujian. Anyway, ngapain juga aku ngejelasin hal ini. Anak SD aja paham kok!

Nah, kebijakan yang keluar dari mulut Bu Dosen Aligator ini tentu saja sangat menyenangkan bagi mahasiswa penganut "TA-mania". Mereka bisa dengan bebas mendeklarasikan kemerdekaan membolos di perkuliahannya Bu Dosen Aligator. Agar absensi mereka tetap ada, mereka bakal minta tolong teman buat meniru dan mengisi tanda tangan mereka di absensi. Gila, kreatif banget kan? Inilah kekreatifan yang disalah gunakan.

Kayaknya te-a ini sudah umum terjadi di kampus. Soalnya banyak dosen yang gak heran bila mengetahui ada tanda tangan tanpa jiwa di perkuliahan. Tanda tangannya ada, tapi orangnya entah hilang kemana. Bagaikan raib di makan bumi. Bagaikan disembunyikan hantu. Bagaikan kacang lupa kulitnya.

Oke, perumpamaan yang terakhir emang gak nyambung.

Aku, sebagai mahasiswa buangan yang teladan, tidak setuju dengan kebiasaan jelek ini. Memang sih aku pernah juga mengalaminya, tapi itu juga hanya dalam keadaan terpaksa. Keadaan terpaksa yang bagaimana? Contohnya : Aku lagi malas kuliah (hehehe, sama aja kali ya).

Tapi serius, aku jarang banget TA. Soalnya aku mikir, aku kan sudah bayar mahal-mahal buat masuk kuliah ini, atau dalam ungkapan lainnya, akulah yang membayar dosen buat mengajar. Masa aku gak datang di kuliah yang dosennya aku biayain sendiri. Kan rugi banget tuh.

Beda klo kayak di SD atau SMP, dimana semua biaya sekolah sudah dibayar pemerintah dengan program BOS. Kita gak bakalan rugi secara materi, paling cuman gak lulus UN (makanya jangan membolos dari sekolah bila ingin lulus).

Aku tidak ingin mempermalukan ortuku yang sudah jauh-jauh mengirim aku merantau menyeberang laut. Aku ingin menggapai cita-citaku.

Aku, tidak ingin menangis menyesal di masa yang akan datang, karena kemalasanku di masa sekarang.

"The reverent and worshipful fear of the Lord is the beginning and the principal and choice part of knowledge [its starting point and its essence]; but fools despise skillful and godly Wisdom, instruction, and discipline." -- Bible [Proverb 1 :7]

Selasa, 26 April 2011

Keluarga Sawal : The Brothers

Anak cowok dalam keluarga Sawal ada dua, yaitu adikku dan aku.

Rizky (Aku)

Si Kacung
Ehm. . .Ehm. . .EHM!!! (Maaf, lagi kena radang ketek).

Rizky (baca : aku) adalah anak buangan yang sedang labil. Tidak ada anak yang lebih labil dari dia. Bahkan seluruh keluarganya pun dibuat takjub dengan keberadaan sang penjahat daki ini. Dia sering membuat onar di rumah dengan nyanyiannya yang dia anggap keren, padahal cemen banget.

Selain nakal, dia juga malas dan jarang mandi. Alasannya sih takut gantengnya luntur. Pokoknya bisa ditebak, klo dia bangun tidur lewat jam 9 pagi, pasti gak bakalan mandi. Makanya badannya panuan. Tapi akhir-akhir ini dia pengen berubah. Pengen lebih ganteng katanya. Ajaib.

Dia tipe orang yang terlalu menganggap remeh segala sesuatu. Kemampuan olahraganya dibawah rata-rata. Kemampuan akademiknya dibawah rata-rata. Cuman kemampuan ngupil doank yang the best. Jadi intinya, dia ini the best losser.

Dia ngakunya pendiam, ga banyak omong, dan gaul. Tentu saja ini berkebalikan dengan kenyataannya yang gak bisa diam, sering heboh sendiri, dan cupu. Pernah ketika dia dan teman-temannya ngumpul ngomongin soal otomotif, dia cuman bisa ngelongo sambil sekali-kali mengangguk tanda ngerti, padahal  gak nyambung.



Aldo

Mirip keteknya Demian
Ini adekku, Aldo. Iya, beda bangetkan sama aku? Secara aku kan ganteng sedangkan dia cemen (padahal...). Aldo yang paling hitam dalam keluarga kami. Kenapa dia hitam? Karena dia orangnya dekil. Suka ngupil juga. Tapi beda dengan aku, walaupun sama-sama suka ngupil. Klo Aldo habis ngupil langsung dimakan. Klo aku gak bakalan segitunya. Paling cuman aku mainin bentar, habis itu langsung kubuang.

Selain itu Aldo juga anak yang paling manja. Iya, dia paling gak bisa pisah sama Mama. Kemanapun Mama aku pergi, dia pasti ikut di belakang kayak ekor kuda. Bedanya sama ekor kuda, dia bisa ngupil. Klo ekor kuda kan gak bisa ngupil.

Aldo sekarang kelas 2 SMP. Sekolahnya sama kayak aku dulu, SMP Negeri 1 Tamiang Layang. Tidak ada yang istimewa dari nilai akademiknya.

Aldo suka olahraga, sulap, main game online, dan main Yoyo. Dia gak suka baca buku, apalagi belajar. Dia paling takut sama yang namanya hantu. Emang sih banyak orang takut sama hantu, tapi kayaknya dia terlalu  lebay. Maklum, anak ABG, Alay Baru Gosong, yang sedang mencari jati diri.

Pernah suatu malam, dia tidur di kamarku. Aku lagi asyik main Playstation sampe larut malam. Tiba-tiba Aldo bangun dan kepengen pipis. Dia ngomong sama aku, "Ky, temanin aku kencing donk!"

"Males, kencing aja sana sendiri! Gak bakalan ada kuntilanak tanpa kepala dengan luka disekujur tubuhnya yang bakalan gangguin kamu!" Aku mencoba memberanikan dia.

Akhirnya Aldo keluar kamar sambil berlari. Kukira dia bakalan langsung ke WC, tapi ternyata dia mengetok-ngetok pintu kamar Mama sambil setengah berteriak, "Ma, Mama, temanin aku kencing donk."

Misi membuat adekku berani kencing sendiri di tengah malam : GAGAL.

***

Nah, sudah aku tepati janjiku buat ngenalin kalian ke keluarga Sawal. Gimana pendapat kalian tentang keluarga aku? Aneh? Gak apa-apa kok, aku maklum aja. Tapi aku tetap ganteng kan? Gak? Tegaaa. . .

Klo menurut aku pribadi, tidak ada keluarga yang lebih membuat aku selalu bahagia selain keluargaku. Semua kekurangan salah satu anggota dalam keluargaku ditutupi oleh anggota keluarga yang lain. Kayak kekurangan adekku Aldo yang paling manja, ditutupi oleh kakakku Cici yang paling rajin. Kekuranganku yang labil, ditutupi oleh semua anggota keluargaku yang normal. Kompak bangetkan?

“The happiest moments of my life have been the few which I have passed at home in the bosom of my family.” —Thomas Jefferson, third President of the United States