Hari ini aku ketemu dengan dosen baru. Cewek. Yah, lumayanlah (aku gak berani bilang jelek, takut nilai dikurangin). Dia berkacamata, gigi gak rata, bibir melebar ke samping, dan berjalan kayak supermodel. Mirip kayak aligator berkacamata yang gagal tes menjadi model.
Caranya mengajar jauh lebih enak dari dosenku yang dulu. Klo dosenku dulu mengajar dengan cara mempersentasi slide berbahasa inggris, tapi dengan kalimat penjelasan yang kadang tidak terselesaikan kayak orang gagal menterjemahkan bahasa inggris tersebut. Kayak orang bingung lah.
Sedangkan dosenku yang sekarang mengajarnya sama aja, dengan mempresentasi slide. Tapi slidenya berbahasa Indonesia, dan kalimat penjelasannya pun enak buat diterima oleh telingaku. Dia menjelaskan segala sesuatu sampai sedetil-detilnya. Walaupun terkadang telingaku berdarah-darah karena mendengar penjelasannya yang terlalu panjang.
Selain daripada itu, semuanya enak-enak aja.
Dia juga bilang klo selama dia mengajar, tidak jadi masalah seandainya ada yang gak pengen hadir dalam perkuliahannya. Yang penting absensinya tetap terisi, karena salah satu syarat mutlak mengikuti ujian adalah persentase kehadiran harus 75%. Klo di bawah 75%, otomatis gak boleh mengikuti ujian. Anyway, ngapain juga aku ngejelasin hal ini. Anak SD aja paham kok!
Nah, kebijakan yang keluar dari mulut Bu Dosen Aligator ini tentu saja sangat menyenangkan bagi mahasiswa penganut "TA-mania". Mereka bisa dengan bebas mendeklarasikan kemerdekaan membolos di perkuliahannya Bu Dosen Aligator. Agar absensi mereka tetap ada, mereka bakal minta tolong teman buat meniru dan mengisi tanda tangan mereka di absensi. Gila, kreatif banget kan? Inilah kekreatifan yang disalah gunakan.
Kayaknya te-a ini sudah umum terjadi di kampus. Soalnya banyak dosen yang gak heran bila mengetahui ada tanda tangan tanpa jiwa di perkuliahan. Tanda tangannya ada, tapi orangnya entah hilang kemana. Bagaikan raib di makan bumi. Bagaikan disembunyikan hantu. Bagaikan kacang lupa kulitnya.
Oke, perumpamaan yang terakhir emang gak nyambung.
Aku, sebagai mahasiswa buangan yang teladan, tidak setuju dengan kebiasaan jelek ini. Memang sih aku pernah juga mengalaminya, tapi itu juga hanya dalam keadaan terpaksa. Keadaan terpaksa yang bagaimana? Contohnya : Aku lagi malas kuliah (hehehe, sama aja kali ya).
Tapi serius, aku jarang banget TA. Soalnya aku mikir, aku kan sudah bayar mahal-mahal buat masuk kuliah ini, atau dalam ungkapan lainnya, akulah yang membayar dosen buat mengajar. Masa aku gak datang di kuliah yang dosennya aku biayain sendiri. Kan rugi banget tuh.
Beda klo kayak di SD atau SMP, dimana semua biaya sekolah sudah dibayar pemerintah dengan program BOS. Kita gak bakalan rugi secara materi, paling cuman gak lulus UN (makanya jangan membolos dari sekolah bila ingin lulus).
Beda klo kayak di SD atau SMP, dimana semua biaya sekolah sudah dibayar pemerintah dengan program BOS. Kita gak bakalan rugi secara materi, paling cuman gak lulus UN (makanya jangan membolos dari sekolah bila ingin lulus).
Aku tidak ingin mempermalukan ortuku yang sudah jauh-jauh mengirim aku merantau menyeberang laut. Aku ingin menggapai cita-citaku.
Aku, tidak ingin menangis menyesal di masa yang akan datang, karena kemalasanku di masa sekarang.
"The reverent and worshipful fear of the Lord is the beginning and the principal and choice part of knowledge [its starting point and its essence]; but fools despise skillful and godly Wisdom, instruction, and discipline." -- Bible [Proverb 1 :7]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar